Kamis, 16 November 2017

Keterkaitan PKN Dengan IPS Dan Mata Pelajaran Lainya & Konsep Serta Prinsip Kepribadian Nasional, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Dan Bela Negara




BAB II
 PEMBAHASAN


A.    Gambaran Umum Dan Karakteristik PKn dengan IPS Dan Mata Pelajaran Lainnya
Pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajarn yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh pancasila dan UUD 1945. Tujuan pendidikan kewarganegaraan secara umum adalah:
1.      Memberikan pengertian, pengetahuan, dan pemahaman tentang pancasila.
2.      Membentuk pola fikir yang sesuai dengan pancasila.
3.      Menanamkan nilai-nilai moral pancasila ke peserta didik.
4.      Menggugah kesadaran anak didik sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia untuk selalu mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai moral pancasila untuk menghadapi arus globalisasi.
5.      Memberi motivasi agar berperilaku sesuai dengan nilai, moral, dan norma pancasila.

B.     Keterkaitan Pendidikan Kewarganegaraan dengan IPS
Keterkaitan PKn dengan IPS sangat kuat. Hal ini dikarenakan sebelum menjadi Bidang Studi Pendidikan Kewarganegaraan yang menurut Kurikulum tahun 1994 diberi nama Bidang Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (sebagai upaya mewujudkan pesan UU sistem Pendidikan Nasional No. 2 Tahun 1989 khususnya Pasal 39 Ayat (2) dan (3)), Bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan adalah bagian dari bidang studi IPS. Bidang studi IPS mencakup aspek Geografi, Ekonomi, dan Sejarah, Pancasila serta UUD 1945 yang menyangkut warga negara serta pemerintahan. Kemudian terjadi pemisahan menjadi bidang studi IPS yang mencakup aspek Geografi, Ekonomi, dan Sejarah.

v  Pembelajaran Terpadu
            Pembelajaran terpadu dikembangkan selain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, diharapkan siswa juga dapat: (1) Meningkatkan pemahaman konsep yang dipelajarinya secara lebih bermakna; (2) Mengembangkan keterampilan menemukan, mengolah, dan memanfaatkan informasi; (3) Menumbuhkembangkan sikap positif, kebiasaan baik, dan nilai-nilai luhur yang diperlukan dalam kehidupan; (4) Menumbuhkembangkan keterampilan sosial seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, serta menghargai pendapat orang lain; (5) Meningkatkan minat dalam belajar; dan (6) Memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
v  Karakteristik Pembelajaran Terpadu
            Menurut Depdikbud (1996:3), pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa karakteristik atau ciri-ciri yaitu: holistik, bermakna, otentik, dan aktif.
1.      Holistik
Suatu gejala atau fenomena yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari beberapa bidang kajian sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak. Pembelajaran terpadu memungkinkann siswa untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi. Pada gilirannya nanti, hal ini akan membuat siswa lebih arif dan bijak di dalam menyikapi atau mengahdapi kejadian yang ada di depan mereka.
2.      Bermakna
Pengkajian suatu fenomena dari berbagai aspek seperti yang dijelaskan di atas, memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar konsep-konsep yang berhubungan yang disebut skemata. Hal ini akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari. Rujukan yang nyata dari semua konsep yang diperoleh dan keterkaitannya dengan konsep-konsep lainnya akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari. Selanjutnya, hal ini akan mengakibatkan pembelajaran yang fungsional. Siswa mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah yang muncul dalam kehidupannya.
3.      Otentik
Pembelajaran terpadu memungkinkan  siswa memahami secara langsung prinsip dan konsep yang ingin dipelajarinya melalui kegiatan belajar secara langsung. Mereka memahami dari hasil belajarnya sendiri, bukan sekedar pemberitahuan guru. Informasi dan pengetahuan yang diperoleh sifatya lebih otentik. Misalnya, hukum pemantulan cahaya diperoleh siswa melalui eksperimen. Guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, sedangkan siswa bertindak sebagai aktor pencari informasi dan pemberitahuan.
4.      Aktif
Pembelajaran terpadu menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran, baik secara fisik, mental, intelektual, maupun emosional guna tercapainya hasil belajar yang optimal dengan mempertimbangkan hasrat, minat dan kemampuan siswa sehingga mereka termotivasi untuk terus-menerus belajar. Dengan demikaian, pembelajaran terpadu bukan hanya sekedar merancang aktivitas-aktivitas dari masing-masing mata pelajaran yang saling terkait. Pembelajaran terpadu bisa saja dikembangkan dari suatu tema yang disepakati bersama dengan melirik aspek-aspek kurikulum yang bisa dipelajari secara bersama melalui pengembangan tema tersebut.

C.     Hubungan Bidang Studi Pendidikan Kewarganegaraan Dengan Mata Pelajaran Lainnya.
Pendidikan kewarganegaraan (PKN) merupakan program pendidikan yang memiliki misi untuk mengembangkan  nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya dan keyakinan bangsa indonesia yang memungkinkan dapat diwujudkan dalam perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaran yang bersifat interdisipliner terutama disiplin ilmu hukum, politik, dan filsafat moral. Sifat interdisipliner ini menjadikan PKn jelas batang keilmuannya (body of knowledge).
Dalam paradigma PKn sekarang dikenal tiga komponen yang saling berkaitan. Menurut Udin Saripuddin Winataputra, ada tiga komponen tersebut adalah sebagaimana uraian berikut ini.
1.      Komponen pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge) berupa materi pelajaran PKn yang harus dicapai peserta didik.
2.      Komponen keterampilan kewarganegaraan (civic skills) berupa kemampuan bersifat partisipatoris dan kemampuan intelektual.
3.      Komponen watak/karakter kewarganegaraan (civic dispositions) seperti bertanggung jawab secara moral; disiplin; rasa hormat terhadap nilai dan martabat kemanusiaan; rasa hormat terhadap peraturan (hukum); mau mendengarkan, bernegosiasi dan berkompromi untuk mencapai kebaikan publik; dan menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.
v  Hubungan Pendidikan Kewarganegaraan terhadap ilmu sosial lainnya
1.      Hubungan PKn dengan ilmu politik
      Pendidikan kewarganegaraan merupakan praktik dari ilmu kewarganegaraan, sedangkan ilmu kewarganegaraan adalah bagian dari ilmu politik. Seperti yang dikemukakan oleh checter van yakni bagian dari ilmu poltik akan membahas tentang hak dan kewajiban warga negara terdapat di civics/ilmu kewarganegaraan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan kewarganegaraan mengandung praktik-praktik yang diturunkan ilmu politik. Sesuai dengan tujuan PKn yaitu menjadikan warganegara yang baik. Maka kita harus memahami teori tentang demokrasi politik yang meliputi konstitusi, parpol pemilu dan semuan hal itu merupakan adopsi dari ilmu politik. Dengan memahami teori ilmu politik maka warga negara mempunyai pengetahuan tentang kenegaraan melalui praktis dari pendidikan kewarganegaraan maka warga negara dapat melaksanakan kewajibannya dan mengetahui hak yang harus diterimanya sebagai warga negaa yang baik.
2.      Pendidikan kewarganegaraan dengan sosiologi
      Sosiologi merupakan ilmu tentang masyarakat. Yang mana yang dibahas tidak hanya keteraturan dalam msyarakat tetapi juga penyimpangan sosial. Salah satu penyebab terjadi penyimpangan sosial yaitu kekurangpahaman masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Contoh kasus keterkaitan sosiologi dengan pendidikan kewarganegaraan, dalam sebuah desa mempunyai kendala dalam aksesbilitas. Seperti kurang memadainya jalan raya untuk masyarakat desa untuk keluar dari desa dalam rangka memenuhi kebutuhan, seperti berjualan, melanjutkan pendidikan, dan membeli kebutuhan rumah tangga yang tidak disediakan desa. Namun hal tersebut terkendala sehingga menimbulkan ketergangguan pola kehidupan masyarakat, terjadinya konflik antar masyarakat dan meresahkan kondisi desa. Bagi masyarakat yang paham dengan haknya sebagai warganegara maka mereka akan menuntutnya sesuai prosedur tanpa harus meresahkan kampungnya sendiri. Kemudan jika mereka memahami tentang kewajiban sebagai warga negara maka mereka akan berusaha memenuhi kewajibannya seperti pajak supaya pemerintah dapat membangun sarana umum seperti yang diinginkan dan mengelola sumberdaya ala dengan baik. Jadi pendidikan kewarganegaraan dapat menjad solusi permasalahan di masyarakat. Sama-sama mengkaji masyarakat / warga negara.
3.      Pendidikan kewarganegaraan dengan ilmu sejarah
      Dalam mempelajari sejarah terdapat latar belakang mempelajari pendidikan kewarganegaraan, proses dan alasannya pendidikan kewarganegaraan dipelajari. Kemudian dengan pada ilmu sejarah dapat diketahui mengapa perlunya pendidikan yang bertujuan menjadikan warga negara yang baik. Semua itu didasari oleh sejarah/peristiwa yang terjadi diwaktu yang lalu. Dengan mempelajari sejarah kita dapat mengetahui kekurangan apa yang akan terdapat pada era dulu dan diperbaiki pada masa sekarang sehingga terdapat perbaikan-perbaikan dari waktu ke waktu.  Dengan mempelajari sejarah dapat ditemukan hal positif yang dapat dipertahankan untuk tercapanya tujuan PKn saat ini atau kedepannya.

Rabu, 09 November 2016

Sawijining dina, nalika Sino arep tuku jajan ing tengah dalan Sino ketemu konca ekstrakulikuler. Areke gedhe lan duwur naning duduk sumo. Biasa Sino sok akrab koyok wartawan ketemu narasumber, amarga ing SMAN 1 PARE muride kon nerapake 5S (senyum salam sapa sopan dan santun).
Sino       : “pan awakmu arep menyang endi?”
Ipan       : “kepo ae penggaweanmu No.”
Sino       : “healah Pan Ipan awakmu saiki kok nguaya toh.”
Ipan       : “iyo lah aku og, saiki kan dadi wong hits. La awakmu arep nyang endi No?”
Sino       : “aku arep ning koperasi Pan.”
Ipan       : “nyapo awakmu ning koperasi.”
Sino       : “arek tuku jajanlah”
Ipan       : “yowes yo No aku arep ning perpus disek, wes gak enek seng arep mbok takokne toh?”
Sino       : “hah? Awakmu arep ning perpus? Gak salah tah Pan?. Dongaren awakmu ning perpus biasane lek jam kosong ning kantinne”
Ipan       : “ora salahlah wong aku arep ning perpus ngisis, ning kelas sumuk poll. Wes gak enek AC ne kipase 3 mati 1 nisan.”
                Sino ngeroso Ipan ora nyaman karo klambi seng digawe amerga ketmau bocahe ngukur-ngukur gegere lan joget-joget dhewe.
Sino       : “ pan awakmu kenek opo ketmau kok joget-joget karo kukur-kukur gegermu?”
Ipan       : “ aku ora kenek opo opo No, aku selak pengen ngisis ae. Yowes yo aku disek.”
Sino       :” ealh iyo pan.”
                Sawise omong-omongan Ipan mlaku ing ngarepe Sino. Sino nyawang ana barang sing rutuh ing lengen klambine ipan. Sino marani ipan lan ngomongi ipan yen enek barang seng rutuh saka klambine. Nalika disawang tibake sing ceblok iku cecek seng ketmau ana ing jero klambine Ipan.

                

Kamis, 11 Agustus 2016



Sinau bebarengan

Tania murid kelas 11 IPS 5 ning SMAN 4 Bandang. Tania duwe bulu mripat sing lenting, rambute dawa lan duwe lesung pipi 2. Tania asale Kalimantan putrine bapak Ridwan lan ibu Ratna, wiwit cilik Tania urip ning Bandung melu simbahe yaiku mbah Narsi.  Senajan arep ujian semester, Tania kudu luweh sregep sinau supaya entok biji sing apik. Ujian kurang rong minggu engkas, kabeh tugas sing diwenehi gurune kudu wes dikumpulne akhir-akhir iki, yen ora ngumpulne bijine bakal elek. Bocah-bocah sakkelas padha gupuh ngarap tugase dhewe-dhewe sakdurunge UKK. Sedurunge UKK sekolahan libur rong dina, supaya luweh kapenak  bocah-bocah sinau bareng ning omahe Dewi. Dina sabtu jam 09.00 Tania, Sofia, Gilang, Rere, budhal bebarengan menyang omahe Dewi. sawise limalas menit, bocah-bocah teko omahe Dewi. supaya luweh cepet mari Tania langsung mbuka laptope. Materi sing digoleki ora kabeh enek ning internet amargo kuwi Sofia, Galang lan Rere nganalisis dhewe wangsulane. Pandom jam ing angka 11.00, senajan wes awan lan tugas biologi wes mari bocah-bocah ngajak mulih. Sedurunge muleh bocah-bocah mbenjeng ngajak kelompokan maneh ganti ngarap tugas basa jawa.
***

Dina minggu, dina pungkasan preian sekolah. Sedurunge budhal kelompokan Gilang lan Tania golek bahan digawe tugas prakarya waktu masuk sekolah. Dina iki Rere lan Sofia ora melu sinau bareng, amarga awake Rere loro senajan Sofia ora melu sinau bareng amargo ora enek barengane budhal. Sinau basa jawa dina iki cuma bocah telu wae, Dewi wes nyiapne laptop digawe garap PPT, senajan catetan tugas basa jawa ing bukune Rere bocah-bocah garap tugase sak ilinge. Materi basa jawa seng arep digawe presentasi yaiku tingkepan, Dewi  lan Tania garap PPTne senajan Gilang golek video tingkepan. jam 17.00, bocah-bocah padha bingung amargo tugase durong mari tapi Tania diutus wangsul ibue amargo wes sore.
***

Dina senin, pelajaran kapisan di wiwiti. pelajaran kapisan yaiku bahasa jawa. Kabeh bocah-bocah sakkelas padha bingung karo tugas PPT. Sadurunge guru bahasa jawa melbu kelas Ridho ketua kelas XI IPS 5 ngomong ning bu Hajar supaya tugase ora di presentasine lan dikumpulne dina iki amerga akeh seng durong mari. Sakwise sepuluh menit, bu Hajar melbu kelas bareng karo Ridho.
Bu Hajar            :”Assalamualaikum.”
Bocah sakkelas:”waalaikum salam”
Bu Hajar            :”sugeng injing”
Bocah sakkelas :”injing” 
Ardi                   :”bu ppt dereng mantun”
Bu hajar             :”iyo,lunguh ndisek
 Tugase ppt dipresentasine minggu ngarep lan dikumpulne terakhir tangal 15 sak durunge UKK, yen enek seng durong mari ditinggal wae. sak iki wayahe bab basa rinenggo, seng nduwe lptop dibuka file,e”

Kabeh padha bukak leptop dewe-dewe. Senajan luweh gampang, bu Hajar mbuka file neng laptop didekek LCD supaya bisa di delok bocah sakelas langsung. Bu Hajar nerangne saitik tentang basa rinengga lan artine. sakwise iku bu Hajar ngongkon mangsuli maknane bahasa rinengga neng laptop supaya luweh ngerti lan paham, seng gelem  mangsuli bakalan entok biji tambahan.
***